Malaikatku Telah Pergi Untuk Selamanya ~ by:dedenmh10


Kenalin nama saya Deden Miftahul Hidayat saya seorang Maha Siswa baru di Politeknik Negeri Tasikmalaya yang baru masuk tahun ini, di tulisan kali ini saya akan menceritakan tentang pristiwa nyata yang saya alami mengenai kehidupan seseorang yang mungkin bisa kita ambil hikmahnya. So baca semua cerita ini ya teman-teman.!!

 Diceritakan  ada sepasang suami istri yang hidup bersama kedua anaknya yang masih kecil, mereka hidup seadanya, suaminya selalu pergi pagi pulang malam bekerja untuk mencukupi biaya hidup sehari-hari sedangkan istrinya dirumah menjaga anak-anaknya yang masih kecil-kecil.

Pada tanggal 16 Desember 2017 terjadi sebuah pristiwa, pada waktu itu keadaan masih stabil suami dari istri tersebut seperti biasa berangkat bekerja dan si istrinya juga seperti biasa menjaga anak-anaknya yang kadang anaknya suka menangis ketika ada orang berjualan kerumahnya ia merengek ingin dibelikan sesuatu. tapi apalah daya si ibu tidak bisa menuruti anaknya bukan karena pelit tapi keadaan ekonomi yang tidak mampu, kadang si ibu menangis dalam hatinya ketika meratapi keadaannya saat ini.

Berjam-jam kemudian langit sudah mulai gelap sebentar lagi suara adzan magrib berkumandang orang-orang sudah bersiap-siap untuk menunaikan shalat magrib, si ibu segera mengajak anaknya yang masih kecil untuk melaksanakan solat magrib, seperti biasa solat magribnya tidak ditemani sang suami yang masih belum pulang bekerja, hidup dalam kesederhanaan tidak membuat mereka lupa akan kewajiban sebagai umat beragama justru mereka semakin bersyukur dan hidup rukun bahagia karena sejatinya kebahagiaan diukur bukan karena berapa banyak harta yang kau miliki tetapi bagaimana kita bisa menggunakan apa yang kita punya dengan sebaik-baiknya. Lalu, Seperti biasa selepas menunaikan shalat magrib si ibu selalu mengaji serta mengajari kedua anaknya belajar huruf-huruf al-qur’an sampai shalat isya, yang kemudian dilanjutkan dengan menonton siaran Televisi sambil menunggu sang Ayah pulang bekerja.

Tepat pada jam 20.00 Malam selepas pulang mengaji seperti biasa saya bergantian dengan orang tua untuk menjaga toko dan seperti  malam biasanya saya yang menggantikan mereka menjaga toko. Tak lama kemudian suara motor khas dari knalpot bersuara keras terdengar berhenti di depan toko, “pasti itu Mang Une(nama samaran)” ujarku. Maklum sudah tak asing lagi ditelingaku karena setiap jam 08.00 malam beliau baru pulang bekerja dan sering belanja terlebih dahulu untuk anak dan istrinya sebelum menuju ke rumahnya. Ternyata benar Mang Une beliau masuk ke toko sebari mengucapkan salam dengan tersenyum, beliau menanyakan barang-barang yang mau dibelinya seperti roko,kue dan makanan-makanan ringan untuk istri dan anak-anaknya yang sedang menunggu kedatangannya di rumah. Beliau bertanya “Berapa semuanya Den?” ujarnya, sayapun menghitung belanjaannya “Rp.50.000 Mang” jawab saya, beliaupun membayarnya dan berbegegas pulang, ‘pikirku, ”buru-buru amat ya si amang mungkin sudah tidak sabar kali ingin bertemu istri dan anaknya. Maklum beliau selalu seharian bekerja”.  sayapun salut dengan kerja keras beliau untuk menafkahi istri dan anaknya setiap hari berangkat pagi pulang malam. 
Sesampai pulang kerumahnya beliau disambut dengan senyuman manis dari kedua anaknya yang setiap hari selalu menunggu sang Ayah pulang karena mereka tahu ayahnya selalu membelikan makanan untuk mereka berdua mereka langsung mengambil makanan yang dibawa oleh sang ayah untuk mereka makan sambil menonton Televisi, sedangkan si Ayah duduk di kursi sambil melepas lelah dengan di temani si ibu, mereka ngobrol-ngobrol ringan tentang cerita mereka seharian, si ibu dengan keseharian menjaga anak-anaknya dan si Ayah yang seharian bekerja, jam sudah menunjukkan jam 21.00 malam dan saatnya untuk mereka istirahat tidur. 

Keesokkan  harinya, tepat pada pukul 05.00 pagi si Ayah  sudah bersiap-siap untuk berangkat bekerja terdengar suara motor yang sedang di hangatkan menandakan ia sebentar lagi akan pergi bekerja, si ibupun segera mempersiapkan bekal untuk dibawa sang Ayah, meskipun si ayah selalu berangkat pagi tapi beliau tidak pernah lupa kewajibannya untuk melayani suaminya. Sang Ayahpun berangkat bekerja dengan membawa bekal yang telah disiapakan si Ibu. Si ibupun memulai aktivitas seperti biasanya menjaga anak-anaknya, sampai pada jam 08.00 siang beberapa jam sebelum terjadi sebuah pristiwa, ketika itu anak yang paling kecil merengek nangis ingin dibelikan jajanan dari pedagang akeup yang datang ke rumahnya ketika si anak ingin dibelikan daging ayam goreng dan sof sayur serta gorengan-gorengan, tetapi si ibu tidak menurutinya karena uang yang dimiliki tidak cukup untuk membeli semua itu, si kakakpun dengan penuh kasih sayang memberi pengertian si adik tetapi si adik masih tetap merengek nangis ingin tetap dibelikan, kemudian sang ibupun terpaksa harus berhutang terlebih dahulu untuk memenuhi keinginan sang anak tersebut sang anakpun berhenti menangis dan kembali bermain dengan ditemani kakaknya.

Karena si ibu sibuk bekerja di rumahnya maka kedua anaknya, ia titipkan kepada kakeknya yang rumahnya tidak jauh dari tempat tinggalnya, kemudian pada pukul 10.00 pagi setelah seleisai membereskan rumahnya si ibu melanjutkan pekerjaannya membersihkan pekakas rumah tangga sperti pirimg,gelas dll. dengan membawanya ke WC empang yang lumayan agak jauh dari rumahnya dan juga lumayan jauh dari keramaian, hingga disaat  itulah  terjadi sebuah pristiwa yang tidak disangka-sangka dan pasti tidak di inginkan, ketika itu disaat si ibu sedang membersihkan barang-barang yang dibawanya di empang tersebut tiba-tiba penyakit lama yang diidapnya kambuh dimna penyakit tersebut sangat berbahaya jika kambuhdisaat tidak ada orang yang membantu beliau dan ketika itu juga beliau mengalami kejang-kejang yang menyebabkan beliau jatuh ke dalam empang sehingga tenggelam dan meninggal dunia. Innalilahi.. brliau wafat dengan meninggalkan 2 orang anak yang masih sangat kecil-kecil dan suami yang selalu bekerja keras untuk membahagiakan beliau.

Waktu itu anaknya belum mengetahui bahwa ibunya telah meninggal. hingga beberapa jam kemudian mereka mulai curiga kenapa ibunya lama sekali dari WC Empangnya, serta si anak yang bungsu merengek nangis ingin ke Ibunya yang mungkin itu pirasat buruk dari anaknya. karena khawatir maka saudaranya yang bernama koko langsung mencari si Ibu ke tempat dimana si ibu tersebut mencuci wadah tadi, dan ternyata benar dengan terkejut dan syok Koko melihat sesosok mayat yang sudah mengambang di empang tersebut, dengan ketakutan Koko berlari kembali ke pekampungan sambil teriak minta tolong.. seketika orang-orang pada waktu terkejut mendengar suara minta tolong yang kemudian muncul Koko dengan suara terdesah memberitahukan bahwa ada mayat di empang di dekat hutan tadi, lalu orang-orang langsung menuju tempat tersebut dan ternyata benar ada mayat yang merupakan mayat si Ibu tadi  istri dari Mang Une,, orang-orang langsung mengevakuasinya dan membawanya pulang, jerit tangis keluarga pecah apalagi anak-anaknya yang masih kecil dengan wajah polosnya  kaget melihat ibunya yang terbaring tak bergerak mereka sekarang menjadi anak Yatim ditinggalkan satu  malaikatnya yang begitu menyayangi dan menjaganya setiap hari..

Sedangkan Mang Une belum mengetahui kejadian tersebut ketika ditelepon handphonenya tidak aktive hingga akhirnya dijemput ke tempat kerjanya dengan tidak diberitahu terlebih dahulu bahwa istrinya telah meninggal. Dan paling sedihnya ketika beliau pulang mayat sang istri yang sangat ia cintai sudah beres dikuburkan pada waktu itu ketika baru sampai di dekat pemakaman yang kebetulan berada di pinggir jalan ia terkejut dan dalam hatinya bertanya-tanya “Siapa yang meninggal?” hingga ketika ia sampai di rumah ia tak bisa berkata apa-apa dan langsung menjatuhkan motornya sambil bertanya” siapa yang meninggal?” beberapa kali. Dan orang seisi rumah tak ada yang menjawab hingga akhirnya sang kakek memeluk beliau menenangkan beliau dan berkata “yang sabar dan tabah  istrimu sudah meninggal dunia, mungkin tuhan ingin bertemu dengannya’’,, seketika itu badan mang Une lemas dan langsung tertunduk dan menangis tersedu-sedu yang kemudian kedua anaknya menghampirinya dan memeluk ayahnya.

Dan sampai saat ini mereka masih hidup bertiga dengan kedua anaknya sudah lumayan besar saya bahkan sudah masuk sekolah Dasar, jujur saya sangat sedih dan tetesan air mata saya keluar ketika mengetik cerita ini bagaimana tidak anak yang masih kecil  ditinggalkan ibunya yang bagi saya ibu adalah segalanya bagi hidup kita..

Terimaksih yang sudah membaca, mudah-mudahan ini menjadi renungan buat kita agar kita selalu menghormati kedua orang tua selagi mereka masih ada buat mereka setiap tersenyum oleh sikap dan apa yang kamu lakukan kepada mereka.. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Malaikatku Telah Pergi Untuk Selamanya ~ by:dedenmh10"

Posting Komentar